Pengusaha Jepang Minta Tambahan Ekspor Gula Kelapa Dari Purbalingga

PURBALINGGA – Setelah diketahu produk dan kualitas gula kelapa, khususnya gula kelapa organik dari Kabupaten Purbalingga. Pengusaha Jepang tertarik untuk menambah jumlah ekspor gula kelapa dari Purbalingga untuk ditingkatkan.
“Selama ini, sebagian atau salah satu impor Jepang dari Indonesia berupa gula kelapa adalah dari Purbalingga yaitu dari wilayah Desa Bojong Kecamatan Merebet yakni mengekspor sebanyak 1,5 ton gula kelapa per bulan ke Jepang. Dan para pengusaha dar Jepang sudah mengetahui kualitas gula kelapa dari Purbalingga, sehingga mereka meminta untuk menambah jumlah ekspor ke negaranya,”tutur Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Dan Koperasi (Dineprindagkop) Kabupaten Purbalingga Agus Winarno saat mendampingi Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi menerima pengusaha dan mahasiswa serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Negara Jepang di Ruang Kerja Bupati Jum’at sore (2/9).
Menururt Agus Winarno, potensi gula kelapa khusunya gula kelapa organik di Kabupaten Purbalingga saat ini sudah mencapai 1,8 ton per bulan atau lima kilogram per penderes dalam sehari dari jumlah penderes sejumlah 600 orang yang ada di Kecamatan Mrebet dan Kecamatan Pengadegan. Dari 600 penderes gula kelapa organik tersebut yang dibina oleh LPPSH atau LSM bidang lingkungan hidup dari Purwokerto merupakan perajin yang ada di Merebet dan Pengadegan dan mereka akan memperluas binaanya ke kecamatan-kecamatan lain yang ada di Purbalingga.
Sedangkan langkah yang sudah diambil oleh pihaknya untuk meningkatkan standar dan kualitas produksi bagi perajin gula kelapa adalah dengan meningkatkan kualitas agar produk gula kelapa Purbalingga memenuhi standar yang disyaratkan oleh pembeli.
“Salah satu standar yang disyaratkan adalah dapurnya bersih, kemudian peralatannya juga standar, sehingga dalam hal ini pemerintah kabupaten (pemkab) membantu peralatannya. Kemudian mengedukai masyarakat dan lingkungannya agar berperilaku organik serta petani harus memproduksi dengan cara higienis,”jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wabup Dyah Hayuning Pratiwi menuturkan, bahwa tamu dari Jepang tersebut datang ke Purbalingga ingin mengetahui potensi gula kelapa yang di Purbalingga. Karena menurut mereka Purbalingga merupakan salah satu tempat produksi gula kelapa yang cukup besar dan potensial. Selain itu mereka juga ingin menggali dan mencari peluang-peluang serta permasalah-permasalahan yang dihadapi para perajin gula kelapa.
“Mereka juga ingin menggali dan mencari peluang serta masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan perajin gula kelapa. Apakan dari faktor sumber daya manusia (SDM), teknologi, atau faktor lainnya. Sehingga mereka ingin memberikan masukan-masukan, yaitu bagaiamana cara untuk bisa peningkatan produksi agar gula kelapa agar bisa memenuhi standar internasional, karena Jepang merupakan salah satu importir gula kelapa dari Purbalingga selain Eropa dan Amerika,ujranya.
Harapannya, sambung Wabup, dengan kegiatantersebut dapat membantu pemkab dalam rangka untuk menggali lagi apa yang menjadi permasalahan yang dihadapi serta untuk mendapatkan solusiny kedepan. Harapannya lainnya adalah, kesejahteraan penderes serta kualitasnya dapat semakin meningkat. Selain itu, kualitasnya juga dapat mumpuni dan memenuhi standar internasional sehingga tidak hanya menjangkau negara Jepang saja namun negara lainnya.
Sedangkan untuk meningkatkan produksi bagi penderes, tandas Wabup, pihaknya melalui Dinperidagkop sudah melakukan berbagai upaya, antara lain memberikan pelatihan dan membantu peralatan. Dan dari total penderes yang ada di Kabupaten Purbalingga yang jumlahnya kurang lebih 19.000 penderes, Pemkab sudah mensertifikasi sebanyak 600 penderes dan mendapatkan sertifikasi penderes organik sesuai standar Eropa
“Dan harapanya kedepan semua penderes di Kabupaten Purbalingga akan disertifikasi semua,”pungkasnya. (Sukiman)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *